Ayo kita hidup sehat dengan sayuran hidroponik

MODEL budi daya aquaponik yang telah mulai dirintis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) rencananya akan dikembangkan hingga Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sistem budi daya ini tidak memerlukan banyak air sehingga dinilai cocok dikembangkan untuk wilayah gersang seperti Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (Jatim) dan NTT.

“Ya cocok buat NTT. Jenis ikannya kan bermacam-macam,” ujar Kepala Badan Penelitian Dan Pengembangan (Litbang) KKP Endhay Kusnendar, Senin (16/1).

Menurutnya, karena mengaitkan budi daya ikan dengan tanaman hidroponik, diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang dengan beragam manfaat yang dihasilkan. Sistem aquaponik memiliki beberapa prinsip utama di antaranya pemanfaatan kembali limbah sebagai sumber nutrisi pada suatu sistem biologis.

Karena dirancang untuk daerah yang sulit air, model budi daya semacam ini dinilai tepat untuk mengangkat ekonomi keluarga. Termasuk pemenuhan gizi keluarga. Sebab, di sekitar kolam bisa ditanam berbagai macam tanaman produktif. Seperti sayur-sayuran maupun tanaman obat.

“Bisa juga dipadukan dengan tanaman mahal. Misalnya anggrek. Tanaman di sekitar kolam tidak perlu disiram setiap hari. Kalau ini ditinggal seminggu tanaman tidak akan layu,” ucap Endhay.

Mengenai masalah ketersediaan air untuk kolam, Endhay mengatakan tidak perlu banyak-banyak. Namun yang perlu diperhatikan adalah masalah sirkulasinya. Dan hal itu dapat dilakukan hanya pada malam hari saja. Ketika ikan peliharaan membutuhkan oksigen. Dengan demikian akan menghemat energi. Selain di Kabupaten Pacitan, program serupa juga sudah dilaksanakan di Pandansimo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, dan Cibalagung, Bogor.

Kepala Program Balitbang KKP Minhadi Noer Sjamsu menjelaskan hasil-hasil penelitian tersebut akan disebarkan ke masyarakat melalui program Ilmu Pengetahuan Teknologi Untuk Masyarakat (Iptekmas), direktorat teknik, kementerian lainnya, dan pemerintah daerah.

Untuk menilai keberhasilan program Balitbang menggunakan sejumlah indikator. Di antaranya jumlah pengguna maupun berapa pihak yang akhirnya mengadopsi program itu sendiri.

Kepala Balai Litbang Perikanan Air Tawar Rudhy Gustiano mengungkapkan, salah satu produk penelitian yang kini mendapat respons positif dari masyarakat adalah jenis ikan Nila Best. Ikan hasil penelitian tersebut sudah didistribusikan ke lebih dari 80 daerah di Indonesia.

Daerah-daerah itu berada di Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Seperti Kabupaten Pacitan, Malang, Brebes, Jawa Tengah (Jateng), Sleman, Yogyakarta, Maros, Sulawesi Selatan, dan Poso, Sulawesi Tengah. “Tapi Jawa yang terbanyak. Di Kalimantan kami mengembangkan di Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat,” ungkapnya.

Menurut Rudhy tingginya permintaan ikan berwarna hitam kehijauan disebabkan karena beberapa keunggulannya dibanding jenis yang sama tetapi belum mengalami perbaikan genetik. Seperti masa panen yang lebih cepat, daging lebih tebal, dan lebih tahan penyakit karena tingkat hidupnya lebih dari 80 persen.

Sumber : http://www.jurnas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: